Ciangsana Farm Kambing Qurban

Menyikapi Perbedaan Dalam Bingkai Persaudaraan

advertise here
NU BOGOR TIMUR - Oleh : Tatang Tajuddin, S.Pd.I (Ketua MDS Rijalul Ansor PAC GP Ansor Gunung Putri)

Perbedaan adalah Rahmat begitu yang diajarkan oleh guru-guruku ketika dahulu menjadi santri, yah walaupun sampai saat ini aku masih merasa aku adalah santri. Perbedaan yang sering menjadi pembahasan di Pesantren memang menarik, kami diajarkan untuk memahami perbedaan dengan sangat bijak oleh para guru kami. Bukan tanpa sebab, perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tak mungkin kita hindari selama kita hidup di Dunia. Dalam teori ilmu sosial perbedaanpun menjadi kajian akademis, yang nantinya menghasilkan dua pola. Diferensiasi dan Stratifikasi, yang kedua-duanya membicarakan tentang perbedaan yang ada di muka bumi ini.
Beberapa bulan ini masyarakat Indonesia disuguhkan oleh berita perihal perbedaan. Entah karena perbedaan suku, perbedaan ras, perbedaan bahasa, perbedaan agama terlebih perbedaan politik. Namun dalam menyikapi perbedaan tak jarang cara radikal dan intoleran dipakai oleh segelintir orang yang mungkin tak bisa menerima perbedaan. Bukankah perbedaan itu Rahmat ?
Bayangkan kita bangun dari tidur lalu membuka jendela kamar kita. Kita melihat diluar sana ada sebuah taman yang beranekaragam warna, tak hanya satu warna. Indah bukan ? Atau selepas hujan turun muncul pelangi elok dengan tujuh warna nya yang khas, bayangkan jika pelangi hanya memiliki satu warna?

Begitupula kita hidup di Dunia ini, tidak bisa kita elakkan, kita di ciptakan dalam bahasa yang berbeda, ras yang berbeda, bangsa yang berbeda, suku yang berbeda, warna kulit yang berbeda, jenis rambut yang berbeda dan agama yang berbeda. Bukankah berarti perbedaan adalah sunnatullah yang bersifat nisbi?
Jika benar perbedaan Rahmat, tidaklah salah jika dahulu saya di ajarkan bahwa rahman dalam lafadz bismillah memiliki makna kontekstual nikmat yang akan diberikan kepada seluruh umat manusia dimanapun mereka berada tanpa melihat background apapun. Dan kata rahim dalam lafadz bismillah adalah nikmat yang khusus diberikan kepada Umat Islam saja, hanya kepada Umat Islam yang mengakui Allah sebagai Tuhannya.
Lalu bagaimana cara menanggapi perbedaan? Ada beberapa hal pertama, meyakini bahwa perbedaan adalah keniscayaan dan rahmat dari Allah SWT. Artinya kita harus menerimanya karena kita semua berbeda. Kedua, mencoba menyelesaikan masalah perbedaan dengan cara duduk bersama dan tabayyun atau klarifikasi. Ketiga, mendiskusikan perbedaan melalui forum-forum musyawarah bukan dengan main hakim sendiri apalagi sampai menganggap kebenaran hanya ada dalam kelompoknya.
Penulis kira itu beberapa hal dalam menyelesaikan permasalahan perbedaan yang ada di Negara tercinta ini.
Terakhir saya ingin mengutip apa yang dikatakan Hillary Clinton saat ia mencalonkan diri dari Partai Demokrat sebagai Presiden Amerika Serikat walaupun saat pemilihan kalah Oleh Donald Trump. "What we have to do is to find a way to celebrate our diversirty and debates our differences without fracturing our communities"
Yang kita butuhkan adalah sebuah jalan untuk merayakan perbedaan dan mendiskusikan perbedaan tanpa harus memecah-belah komunitas kita. Dan menurut penulis jalan itu sudah ada dalam lafadz bismillah, sayangnya para yang katanya Ulama kita lebih senang membahas ayat perang daripada ayat Rahmat dan kasih sayang.**Wallahuaa’lam


* Tulisan ini merupakan pendapat penulis, bukan bagian dari tanggungjawab nubogortimur.com