Ciangsana Farm Kambing Qurban

Muhasabah Kebangsaan; Pengorbanan Para Ksatria

advertise here
Muhasabah Kebangsaan; Pengorbanan Para Ksatria
NU BOGOR TIMUROleh : Al Zastrow Ngatawi

Dalam dunia pewayangan dikenal tokoh Wisanggeni, seorang ksatria putra Arjuna yg berobsesi menegakkan kebenaran dan keadilan hingga harus melawan berbagai macam rintangan dan hambatan. Mengobrak abrik tatanan Jonggring saloka yg dianggap sebagai tempat suci para dewa. Menantang semua ksatria yg dianggap durjana meskipun berpenampilan bijak dan berwibawa.

Sikap Wisanggeni yang tanpa kompromi ini mengkhawatirkan para dewa di kahyangan, karena tidak saja bisa memporak porandakan tatanan dunia tetapi juga bisa membatalkan bharatayudha yg sudah menjadi garis takdir kehidupan. Karena sikapnya yang begitu tegas tanpa kompromi akan membuat hilangnya kejahatan sebelum bharatayuda terjadi.

Agar garis takdir kehidupan berjalan sebagaimana mestinya, bathara Krishna berdialog dengan Wisanggeni dan meminta kesediannya mengundurkan diri dari dunia. Dengan sikap ksatria yg penuh kearifan Wisanggeni memahami wejangan Kreshna dan bersedia membiarkan kejahatan dan kebenaran bertarung sesuai garis takdirnya. Kemudian dengan sukarela dia meninggalkan dunia dengan cara menjilat bekas kakinya. Wisanggeni gugur atas kesadaran sendiri, mengorbankan diri demi kelansungan kehidupan.

Dalam komteks sejarah Islam Nusantara, sikap Kresno ketika meminta kerelaan wisanggeni membiarkan alam berjalan sesuai takdirnya, mirip dengan sikap Walisongo ketika meminta kerelaan Syech Siti Jenar mengorbankan diri demi berjalannya takdir kehidupan secara normal.

Walisongo sangat memahami komitmen syech Siti Jenar dalam menegakkan tauhid dan kebenaran. Tapi cara-cara yang ditempuh Siti Jenar dianggap  bisa merusak tatanan dan garis takdir kehidupan. Dan Siti Jenarpun memahami jalan pikiran Walisongo dalam mengemban tugas menata kehidupan sebagaimana Wisanggeni memahami petuah Bathara Kreshna.

Demi berlakunya hukum kehidupan kadang memerlukan pengorbanan diri para bijak seperti yang dialami Syech Siti Jenar, Hamzah Fansuri sampai Wisanggeni. Mereka ini rela mengorbankan diri untuk dinista kemudian dikubur rame-rame demi jalannya hukum kehidupam. Dengan sirnanya orang-orang seperti ini kehidupan berjalan normal,  kebenaran dan kesalahan, kedzhaliman dan keadilan kembali bertarung menempuh takdirnya karena tidak dihalangi oleh para pemberani yang teguh pada prinsip.

Beginilah para leluhur negeri ini menjaga dan memelihara kehidupan bangsa ini yang penuh dengan perbedaan yg beragam. Mereka mengambil kisah hikmah yang penuh kearifan sehingga rela mengalah demi kepentingan yang lebih besar dan kelangsungan kehidupan. Tidak mabuk dan jumawa dalam kemenangan dan tidak marah atau sedih menerima kekalahan. Beginilah sikap para ksatria sejati. Saatnya belajar dari pengorbanan para ksatria.*