Ciangsana Farm Kambing Qurban

Kajian al-Hikam (35) : Cahaya Keikhlasan

advertise here
 Kajian al-Hikam (35) : Cahaya Keikhlasan
NU BOGOR TIMUR -
Kajian al-Hikam (35)

Cahaya Keikhlasan



مَنْ اَشـْرَقت بدايَتـُهُ اشرَقَتْ نِهاَيَتـُهُ


"Barangsiapa yang bercahaya permulaannya maka pasti bersinar masa akhirnya."

Maqalah di atas sebagai kelanjutan dari maqalah sebelumnya yaitu sebagai tanda kesuksesan di akhir perjalanan yaitu mengembalikan kepada Allah di awal perjalanan.

Maka maqalah ini menegaskan bahwa orang yang melaksanakan amal ibadah didasari cahaya keikhlasan maka akan memperoleh natijah (hasil) dari keikhlasannya. Artinya para salik yaitu orang-orang yang berjuang di jalan Allah maka dalam melaksanakan amal ibadahnya tidak boleh melakukan kesyirikan sekecil apapun.

Syirik yaitu perbuatan menyekutukan Allah, syirik ada dua macam yaitu syirik jali dan syirik khafi.

Syirik jali yaitu menyekutukan Allah secara nyata seperti menyembah berhala dan lainnya. Syirik khafi yaitu menyekutukan Allah secara sembunyi/samar, contohnya riya', 'ujub dan lainnya. Riya' yaitu pamer dengan amal ibadahnya supaya dilihat manusia, supaya dipuji manusia, supaya diperhatikan manusia. Semangat ibadahnya pelaku riya' bukan karena Allah melainkan karena manusia. Terkadang riya' bisa muncul diawal ibadah, mau shalat berjamaah tapi niatnya hanya ingin dilihat tetangga supaya dipuji sebagai orang ahli ibadah, ada kalanya riya' di tengah ibadah seperti di awal shalatnya sudah ikhlas tiba-tiba di tengah shalatnya muncul riya' seperti pura-pura khusu' sujudnya, biasa cepet dipanjangin, bacaan surat biasanya pendek tiba-tiba dipanjangin. Ada pula riya' muncul di akhir ibadah, di awal dan di tengah ibadah sudah ikhlas tapi selesai shalat tiba-tiba terlintas ada niat pamer supaya ibadahnya diketahui orang lain, seperti menceritakan ibadahnya kepada orang lain, atau menulis status atau mengirim posting di medsos bahwa dirinya telah melakukan shalat dhuha atau shalat malam. Maka semua amalan ibadah yang dilakukan jika terkena virus riya' maka runtuh semua amal ibadahnya, karena dalam hadits dijelaskan, "Sesunguhnya Allah tidak menerima amal ibadah yang di dalamnya terselip riya'." Jadi begitu bahayanya amal ibadah yang masih terselip riya' karena tidak akan diterima oleh Allah. Karena itu, mari bersihkan hati kita dari virus riya' yang dapat merusak seluruh ibadah kita diganti dengan cahaya keikhlasan. Jika dalam melaksanakan ibadah didasari dengan keikhlasan niscaya amal ibadah kita akan diterima oleh Allah dan diberikan balasan yang nyata baik di dunia maupun di akherat kelak.

Semoga kita dapat terus belajar dan memperbaiki hati sehingga dapat terbebas dari virus riya' yang destruktif.


al-Rabbani, 24 Mei 2017

Dr. KH. Ali M. Abdillah, MA