Ciangsana Farm Kambing Qurban

NU Cianjur dan Agendanya Lima Tahun Ke depan

advertise here
NU Cianjur dan Agendanya Lima Tahun Ke depan
NU BOGOR TIMUROleh : H. M. Riza Aziziy Hisyam
Akhir pekan ini, Sabtu-Ahad (20-21/05) akan diselenggarakan Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama Cianjur (Konfercab) yang ke 17 di Ponpes Ar-Riyadl Cipanas. Sebuah agenda lima tahunan untuk mengevaluasi program NU selama lima tahun, merumuskan program yang akan diamanatkan kepada pengurus baru, sekaligus merespon isu kontemporer yang biasanya menjadi rekomendasi Konfercab.

Setidaknya ada beberapa isu yang bisa menjadi bahasan pada konfercab ini sekaligus menjadi rumusan program untuk penguatan lembaga. Pertama, isu gerakan radikalisme baik secara nasional maupun regional mengharuskan NU memperkuat citra dirinya sebagai organisasi yang moderat dan toleran. Pengurus dan warga NU perlu mempertajam kontekstualisasi dan internalisasi pemikiran (fikrah), metodologi berpikir (manhaj) dan gerakan (harakah) organisasinya. Mereka juga perlu mengenal gerakan transnasionalisme yang berbahaya bagi sendi" kehidupan berbangsa & bernegara.

Formulasinya, dalam lima tahun ke depan pengurus NU dapat menyelenggarakan training secara simultan pada seluruh pengurus NU di semua tingkatan dengan fokus pada dua bahasan di atas. Dengan demikian, komitmen NU sebagai ormas penjaga gawang NKRI dapat terus terjaga sampai kapan pun.
Kedua, sebagai organisasi dengan rata-rata warganya tinggal di pedesaan perlu ada upaya serius untuk meningatkan taraf hidup mereka. Pengurus NU harus bersinergi dengan pemerintah khususnya di tingkat desa agar program-program yang bersumber dari dana desa dapat betul-betul dirasakan oleh masyarakat kecil. Hal ini juga sebagai upaya membantu mensukseskan program nawa cita Pemerintahan Presiden Jokowi.
Selain itu, NU dapat bersinergi dengan sektor swasta untuk menyelenggarakan kegiatan usaha bersama (joint venture) sebagai ikhtiar membentuk organisasi secara mandiri.

Ketiga, jamak di kalangan Ulama bahwa pesantren adalah NU kecil dan NU adalah pesantren besar. Hal ini menunjukan ikatan keduanya yang sangat erat. Faktanya saat ini di Cianjur ada beberapa pesantren ditinggalkan oleh santrinya akibat gagap dalam merespon cepatnya perubahan di tengah masyarakat. Penguatan fungsi Rabitah Ma’had Islamy (RMI) /asosiasi ponpes NU menjadi keniscayaan dalam mengantisipasi fenomena tersebut.

Di antara yang bisa dilakukan adalah menyelenggarakan pengajian maupun musyawarah bersama secara rutin di antara pengasuh dan pengurus pesantren. RMI juga dapat menentukan kurikulum dan evaluasi bersama yang disepakati oleh seluruh pesantren sebagai upaya perwujudan standarisasi pendidikan pesantren. RMI juga dapat menginisiasi adanya olimpiade maupun perlombaan antar pesantren di berbagai bidang. Usaha di atas tentunya dalam rangka meningkatkan silaturrahim di kalangan pesantren yang efek dominonya diharapkan pesantren dapat bersinergi dalam memecahkan permasalahannya.

Selain program-program di atas ada beberapa program kerja yang harus terus dilanjutkan bahkan ditingkatkan, di antaranya program-program yang diinisiasi oleh Lembaga kesehatan seperti operasi bibir sumbing, katarak dan pemasangan kaki palsu. Pembahasan masalah fiqih yang dilakukan oleh lembaga bahtsul masail diharapkan juga terus meningkat utk merespon persoalan keagamaan warga NU Cianjur.


Sebagai warga NU, saya berharap semoga harapan dapat menjadi pemicu (trigger) agar siapa saja yang menjadi nakhoda NU Cianjur periode 2017-2022 dapat menjadikan warga NU lebih sejahtera secara ekonomi, moderat & toleran dalam beragama dilandasi dengan prinsip dan nilai ahlussunnah wal jamaah Annahdliyah. Semoga bermanfaat & selamat berkonferensi. (*)

Penulis, H. M. Riza Aziziy Hisyam, Pengasuh Ponpes Asshiddiqiyah 10 Sukaresmi