Ciangsana Farm Kambing Qurban

Ramadhan, Ajang Perkuat Perdamaian

advertise here
Ramadhan, Ajang Perkuat Perdamaian
NU BOGOR TIMUR - Oleh: Dhilla Nuraeni Az-zuhri
Ramadhan adalah bulan suci yang disucikan Allah. Milyaran umat muslim di dunia, di bulan ini melakukan puasa dan berbagai macam aktivitas ibadah mahdhoh juga ghairu mahdhoh lainnya. Ini adalah bulan kontemplasi, bulan yang paling tepat untuk medekatkan diri kepada Allah SWT. Ramadhan adalah bulan suci, di bulan ini yang juga sama di bulan lainnya. Allah melarang berbuat kemungkaran, dan menganjurkan hamba-hambanya untuk senantiasa menciptakan perdamaian di muka bumi.

Ramadhan pula adalah bulan yang penuh berkah, pengampunan, dan perdamaian. Karena Semuanya berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik pada bulan Ramadhan ini.

Dan di bulan Ramadhan tertulis beberapa sejarah perdamaian dunia. Indonesia merdeka pada tanggal 17 agustus 1945 bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun 1364 H. Al-Qur’an diturunkan kepada nabi Muhammad SAW pada tanggal 17 bulan Ramadhan sebagai pedoman dan petunjuk dalam menjalankan kehidupan bagi umat manusia. Pembebasan mekkah, yang dikenal dengan fathu makkah terjadi pada tahun 630 M bertepatan pada tanggal 10 Ramadhan 8 H dimana  Nabi Muhammad bersama 10.000 pasukan bergerak dari Kota Madina menuju Kota Makkah dan membebaskannya tanpa ada pertumpahan darah. Dan beberapa sejarah yang lainnya yang terjadi di bulan Ramadhan.

Untaian sejarah di atas menunjukkan pada kita bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan toleransi dan perdamaian. Pada era ini, toleransi dan perdamaian harus dimiliki dan aplikasikan oleh seluruh umat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula dengan umat islam masa kini harus menjadikan toleransi dan perdamaian sebagai basis dalam menjalankan kehidupan khususnya di bulan Ramadhan.

Penerapan toleransi dan perdamaian ini dapat dilihat dari perbedaan penetapan awal puasa, jumlah rakaat tarawih, dan pelaksanaan idhul fitri yang berbeda-beda. Akan tetapi umat islam satu dengan yang lain tidak saling menghujat ataupun menyalahkan keyakinan orang lain. Hal ini menandakan bahwa perbedaan adalah rahmat, khususnya perbedaan di bulan Ramadhan, dengan menghargai keyakinan masing-masing untuk memulai berpuasa dan melaksanakan sholat tarawih dengan jumlah yang berbeda, ada yang 11 rakaat, dan ada pula yang 23 rokaat menandakan bahwa islam mencintai toleransi dan perdamaian baik bagi muslim sendiri maupun individu kepada individu lain yang berbeda keyakinan.

Begitu juga perbedaan waktu berbuka puasa di suluruh dunia telah menjadikan Ramadhan itu unik, toleran, dan penuh dengan perdamaian. Misalkan di indonesia, lama waktu masyarakat muslim indonesia kurang lebih sekitar 13 jam/hari. Terhitung sejak jam 4:15 sampai dengan 17:45 masyarakat muslim Indonesia berpuasa dengan menahan makan dan minum dan hal yang membatalkan puasa selama waktu tersebut. Hal yang berbeda dialami oleh masyarakat muslim di Islandia, dimana siang hari lebih lama dari pada malam hari kurang lebih sekitar 22 jam. Masyarakat muslim yang ada di sana harus menahan lapar, haus, dan hal yang membatalkan puasa lebih sepanjang waktu tersebut dan lebih lama dari pada di Indonesia.

Dari analogi di atas menunjukkan bahwa Ramadhan, selain bulan penuh berkah, pengampunan, juga merupakan bulan penuh toleransi dan perdamaian. Walaupun berbeda dalam permulaan awal ramadhan, jumlah rokaat tarawih, toh sama-sama berbuasa, sama-sama melaksanakan sholat tarawih, sama-sama berbuka puasa, dan mengharap ridha dari Allah tanpa melihat ras, bahasa, dan aliran.

Semuanya berlomba-lomba untuk meningkatkan ibadah di bulan Ramadhan dengan membaca al-Qur’an dan beri’tikaf di masjid.

Hal ini manandakan bahwa Ramadhan, merupakan bulan pemersatu umat manusia di seluruh penjuru dunia. Dengan Ramadhan ini, toleransi dan perdamaian dapat terus tertanam dari di seluruh umat manusia. Jika sifat toleransi dan perdamaian di atas diterapakan dalam kehidupan sehari-hari di luar bulan Ramadhan, maka ketenangan hidup akan dicapai.
Wallahul Muwafiq Ila Aqwami Thariq

Penulis, Mahasiswi Sekolah Pascasarjana UNINUS Bandung/ Wakil Sekretaris PW IPPNU Jawa Barat