Ciangsana Farm Kambing Qurban

Menghikmahi Perbedaan Ulama

advertise here
NU BOGOR TIMUR - MENGHIKMAHI PERBEDAAN ULAMA


Oleh Syahrul Ramadhan - Ketua IPNU PC Kecamatan Klapanunggal

Pertama, ada ulama yang ketika ceramah atau berkhutbah di mimbar selalu menebar luas dan dalamnya ilmu dengan cara yang santun dan damai, bahkan ketika ia dicaci dan dicela ulama lain ia tanggapi dengan arif dan bijaksana dengan serta mengedepankan rasa cinta.

Itu menjadikan saya merasa semakin kecil di hadapan Allah dan merasa sangat kurang ilmu agama dan bercermin introspeksi diri, bagaimana Islam semestinya saya imani dan amalkan? Serta menumbuhkan semangat untuk menebar kemaslahatan bersama dan memberikan rasa aman dan nyaman bagi sesama.

Kedua, ada ulama yang ceramahnya sering berteriak dan mencela orang dan ulama lain dengan bahasa yang betgejolak serta menebar rasa kebencian dan amarah. Itu menjadikan saya juga bersemangat terprovokasi untuk memusuhi orang atau ulama yang dicela sang penceramah dan khatib tersebut. Bahkan lebih jauh lagi ceramah provokasi menebar benih-benih kekerasan dan intoleransi terhadap sesama manusia, hewan, dan tumbuhan, bahkan benda mati diajak untuk menjadi alat memusuhi dan menyakiti.

Akhirnya saya paham bahwa agama hadir untuk manusia agar senantiasa bercermin pada diri sendiri sejauhmana iman, ilmu, dan amal kita menjadi manusia yang rahmatan lil alamin. Apakah agama mengajak kita bersemangat untuk memusuhi dan menyakiti orang lain, atau memberikan as-salam atau kedamaian dan rasa aman bagi kehidupan sesama ?

Semua menjadi rangkaian moderasi keimanan manusia terhadap merespons asal kejadian atau fithrahnya serta khittahnya sebagai makhluk yang diciptakan dari tanah serta mandatnya untuk memimpin alam semesta. Apakah kita kembali pada fitrah yang asal sebagai tanah yang stabil dan memberikan harapan hidup bagi mahkluk lain seperti hewan dan tumbuhan di atasnya ? Atau menyimpang dari fitrah dengan menjadi manusia bergejolak bagai api serta membakar dan memberangus setiap yang hidup ?

Semoga senantiasa kita bisa menghikmahi asal kejadian kita yang diciptakan dari tanah sebagai manusia, bukan diciptakan dari api sebagai iblis. (Azizian)