Ciangsana Farm Kambing Qurban

Waspadalah ! POLRI dan TNI Target Utama Anshar Daulah (ISIS)

advertise here
Foto Ilustrasi : TNI dan Polri
NU BOGOR TIMUROleh : Vinanda Febriani

Seperti yang kita ketahui belakangan ini sudah sangat marak kasus pembantaian, bom dan pembunuhan terhadap para Anggota POLRI, TNI, BRIMOB dan DENSUS 88. Setelah di identifikasi, ternyata mayoritas pelakunya merupakan simpatisan Anshar Daulah (Islamic State/ISIS).

Seperti tragedi Bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur pada Rabu malam 24 Mei 2017. Korban ledakan tersebut tak lain adalah Anggota POLRI yang tengah beristirahat setelah mengamankan acara Pawai Obor menyambut Bulan Suci Ramadhan.

Lihat juga maraknya berita Anggota POLRI yang terluka sebab ditikam oleh pria tak dikenal (terduga simpatisan Anshar Daulah) menggunakan sangkur ber-merk "Cobra" setelah selesai menunaikan Ibadah Shalat Isya di Masjid Falatehan Blok M. Sebelum kejadian, pelaku sempat meneriakan Takbir dan kata "Thoghut (read. Berhala/Syetan)".

Ke-dua kata tersebut sudah sangat marak disebutkan oleh para Simpatisan Anshar Daulah (ISIS) ketika melakukan aksinya di berbagai negara semisal Syiria, Lebanon, dan juga Marawi. Kemungkinan besar target selanjutnya adalah Indonesia.

Ya, Indonesia merupakan target empuk selanjutnya. Bagaimana tidak? sudah banyak sel-sel tidur ISIS yang bebas berkeliharaan di tiap-tiap daerah di Indonesia. Mereka berupaya berbaur dengan masyarakat supaya tak dicurigai, kemudian ketika ada komando perang dari pemimpinnya mereka akan menjadi "Musuh dalam selimut". Terlebih, saat ini Indonesia sedang mengalami krisis persatuan dan akal sehat. Berbagai konflik kecil diperbesarkan, berjuta berita HOAX di sebar luaskan, berjuta fitnah, propaganda, adu domba di per-Tuhankan. Bahkan yang paling berbahaya adalah, mereka banyak mendoktrin kalangan-kalangan remaja yang masih Awam terhadap Ilmu Agama. Mereka mendoktrin dengan pemahaman Islam menurut aliran pemahaman mereka. Sehingga banyak para remaja awam nan labil ter-rekrut di dalamnya.

Hal ini tentu berbahaya, sebaiknya di setiap daerah diberikan wadah ilmu pengetahuan yang memadai mengenai wawasan ke-Agamaan dan ke-Bangsaan yang tepat. Dibuatkan pula wadah dialog dan diskusi lintas Agama, supaya lebih luas dan lebih leluasa akan pemahaman kebangsaannya, sehingga kedepan diharapkan tidak ada masyarakat yang tidak mau berbaur dan menjalin peraudaraan terhadap masyarakat satu daerah tempat tinggalnya. Pemerintah daerah pun dituntut untuk selalu tegas terhadap siapapun yang sekiranya terindikasi virus radikalisme.

Saat ini, target utama mereka (read. Anshar Daulah/ISIS) adalah para aparat keamanan negara seperti POLRI, TNI, BRIMOB, dan DENSUS 88. Sebab, jika Aparat Negara berhasil mereka lumpuhkan, akan dengan mudah mereka merebut NKRI dan menjadikannya luluh lantak seperti halnya syiria.

Saya banyak belajar dan mencari informasi terkait gerakan Anshar Daulah (ISIS) dan kaum radikal penggila jihad dan khilafah dari kakak-kakak Ansor-Banser NU dan NU Cyber Troops melalui WA Group. Ya, mungkin memang tidak masuk akal. Namun percaya atau tidak, mereka benar-benar nyata. Mereka banyak merekrut Anggotanya, mendoktrin pemahaman Anggotanya dan menggerakan Anggotanya melalui komando di WA Group. Bisa dibilang saya merupakan salah satu "Mujahid WA Group". Sebab saya banyak berhijrah kesana-kemari keluar-masuk group-group WA berbasis "Radikal".

Terkadang ancaman caci-maki bahkan pembunuhan melanda diri saya, namun semua itu tak membuat jiwa saya ciut, sebab saya seringkali bercerita akan pengalaman saya kepada kakak-kakak saya di tiap Group WA. Kami sering bertukar informasi melalui Group WA yang sudah kami buat.

Terkait ancaman pembantaian Aparat Negara. Hal ini bisa kita lihat, mengapa belakangan ini target empuk mereka adalah para Aparat Keamanan Negara?. Ya, sebab orang-orang yang mereka anggap "Aktifis Jihad" banyak yang tertangkap Aparat Keamanan Negara. "Aktifis Jihad" tersebut banyak yang di tahan bahkan tertembak mati oleh senapan peluru Aparat Keamanan Negara. Sehingga, mereka tidak terima dan mengancam akan terus meneror Aparat Negara sebelum teman-teman "Aktifis Jihad" mereka dibebaskan.

Ucapan "Takbir dan Thoghut (Read, Berhala/Syetan) seringkali keluar dari mulut mereka ketika melihat atau bertemu dengan Aparat Keamanan Negara terutama BRIMOB dan POLRI, keduanya ini merupakan sasaran empuk kemarahan mereka. Sebab mereka telah diberikan komando untuk "Membunuh POLRI dan BRIMOB dimanapun mereka berjumpa".

Mereka tidak akan menyerang masyarakat, namun mereka hanya menyerang para Aparat Keamanan Negara sebab "Balas Dendam" mereka terhadap rekan "Aktifis Jihad" mereka yang telah banyak tercyduk. Sehingga Aparat Keamanan Negara harus mampu berjiwa besar, sabar dan super waspada. Karna Anshar Daulah itu "Nyata dan ada di mana-mana".

Namun kita tidak perlu takut akan ancaman-ancaman "Busuk" tersebut. Sebab kita mempunyai "Akal sehat". Terkait ancaman nyata bahaya laten Terorisme, saya masih sangat komplain terhadap kinerja DPR yang tidak tegas terhadap Terorisme. Bagaimana para Aparat Keamanan Negara akan bertindak secara tanggap dan maksimal, sedangkan oleh DPR sendiri UU Anti Terorisme belum ditetapkan secara sah. Seharusnya DPR lebih peka akan hal ini. Sebab ini sudah menyangkut masa depan Rakyat, NKRI dan juga Generasi mendatang.

Saat ini saya kira banyak orang berteriak aneh dan tidaklah masuk akal. Yang terlihat nyata saat ini adalah bahaya laten faham Radikal dan Terorisme, lalu mengapa yang mereka teriakan adalah "Waspada Bahaya Laten PKI". Padahal, saat ini PKI sudah tidak lagi menyerang Indonesia. Yang perlu kita waspadai saat ini adalah bahaya laten "Terorisme".

Namun kita tidak perlu takut. "Waspada wajib, takut jangan". Sebab, semakin kita takut kepada ancaman mereka, semakin mereka akan merasa menjadi pemenang, hebat dan tertawa puas. Salah satu cara menghadapinya adalah dengan empat hal. Yakni, "Bersatu, Teguhkan jiwa, Bulatkan Tekad dan Lawan Terorisme".

Dengan ini, saya sebagai rakyat sipil yang sangat perduli dan cinta terhadap NKRI menghimbau kepada para Aparat Keamanan Negara untuk selalu waspada dimanapun kalian berada dan selalu "Bersatu, Teguhkan Jiwa, Bulatkan Tekad dan Lawan Terorisme". Masa depan NKRI ada di tangan kalian. Jika kalian lemah, hancurlah sudah masa depan NKRI. Tetap kuatkan jiwa, satukan segala perbedaan. Tuhan bersama kalian dan kita semua. Kami Rakyat pecinta NKRI ada dibelakang kalian para Aparat Keamanan Negara. Kami siap "Bersatu" demi tegaknya keamanan, kedamaian dan kenyamanan di NKRI tercinta ini.

Mulai saat ini, tidak ada lagi kata "Mayoritas-Minoritas" kita adalah Satu "NKRI". Tumpas habis Radikalisme dan Terorisme. Tetaplah bersatu teguh, berpegangan tangan erat-erat dan teriakan "NKRI HARGA MATI !!! SETIA KEPADA NKRI SAMPAI MATI !!". Karna beginilah cara kami bersyukur kepada Tuhan. Dengan mencintai segala perbedaan yang ada di NKRI. Bhinneka Tunggal Ika.

"Kami Rakyat Indonesia menolak Anshar Daulah dan Negara Khilafah. Karna kami akan tetap setia kepada NKRI sampai kapanpun. NKRI Harga Mati !!!"

Semangat selalu Aparat Keamanan Negeriku. Kami ada di belakangmu. Kami mendukungmu untuk menumpas segala bentuk Faham Radikal dan Terorisme. Musuh nyata NKRI. Penghianat NKRI. Tetap bersemangat menjaga, melindungi dan mempertahankan NKRI. Hubbul wathon Minal iman "Mencintai Negara (Tanah air) merupakan sebagian daripada Iman".


Vinanda Febriani, Borobudur, 02 Juli 2017.