Ciangsana Farm Kambing Qurban

GP Ansor dan Kritik terhadap Ulama Pendukung Radikalisme

advertise here
NU BOGOR TIMUR - Tak pernah terpikir oleh Fiera Lovita, akibat kritik yang ditujukannya tanpa menyebut nama tersurat di media sosial berujung persekusi.



Pada Mei lalu, perempuan yang berprofesi sebagai dokter di RSUD Solok, Sumatera Barat itu menulis sebuah status di jejaring sosial Facebook yang menyinggung pentolan Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab yang tersangkut kasus dan memilih tetap di luar negeri.

Akibat statusnya tersebut, Fiera harus mengalami kejadian tak mengenakkan. Tempat kerja dan kediamannya dihampiri simpatisan Rizieq, dan ia pun harus menjalani interogasi oleh kepolisian.

Akhirnya, tak kuat dengan persekusi itu, Fiera pun meminta bantuan untuk keluar dari kampung halamannya itu. Bantuan datang, salah satunya dari GP Ansor--organisasi sayap Nadhlatul Ulama--dan Fiera serta keluarganya pun mengungsi ke Jakarta.

Kala itu, Ketua GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan pihaknya memberi bantuan pendampingan guna memastikan keamanan serta keselamatan Fiera dan keluarga keluar dari Solok.

Fiera hanyalah salah satu kasus persekusi yang dialami oleh FPI atau simpatisan organisasi yang dipimpin Rizieq Shihab tersebut.

Pada awal Juni lalu, seorang bocah berusia 15 pun menjadi korban persekusi simpatisan FPI dan Rizieq Shihab. Ia digelandang oleh simpatisan ke tempat aparat pemukimannya di kawasan Cipinang, Jakarta Timur.

Lagi-lagi, GP Ansor pun turun tangan untuk membantu bocah tersebut agar tak terjadi intimidasi lanjutan.

Dalam perjalanannya, GP Ansor dan FPI kerap terlihat berseberangan dalam tindakan di tengah masyarakat. Itu pun diakui Yaqut. Namun, secara diplomatis Yaqut menegaskan hubungan dingin antara sesama kelompok organisasi massa Islam tersebut.

"Ansor ini tidak pernah merasa bermusuhan ataupun tidak berkawan dengan FPI. Jika kemudian di lapangan ada benturan-benturan antara Ansor dengan FPI itu lebih karena Ansor melawan sikap, bukan melawan organisasi," ujar Yaqut membuka jawaban atas wawancara CNNIndonesia.com pada awal Agustus ini.

"Kalau toh, misalnya, [aksi] mempersekusi orang muncul bukan dari FPI, kami tetap lawan. Dan, kebetulan yang melakukan persekusi-persekusi itu adalah FPI atau simpatisannya. Itulah yang kemudian membuat mereka berhadapan dengan Ansor."

Dalam usianya, GP Ansor yang merupakan gerakan kepemudaan dari ormas Islam terbesar se-Indonesia itu, NU, lebih tua dibandingkan FPI. GP Ansor yang juga memiliki sayap Banser (Barisan Ansor Serbaguna) telah berada di Indonesia sejak 1934 silam. Sementara itu, FPI yang memiliki sayap Laskar Pembela Islam (LPI) baru muncul di bumi Indonesia sejak deklarasi 19 tahun lalu.

Dua hari setelah peringatan kemerdekaan ke-72 RI pada 17 Agustus 2017, FPI berencana menggelar Milad ke-19 di Penjaringan, Jakarta Utara.

FPI yang dideklarasikkan di Pondok Pesantren Al Umm, Ciputat, pada 1998 itu menegaskan visi misi untuk menerapkan syariat Islam secara kafah lewat dakwah, penegakan hisbah, dan pengamalan jihad.

Membandingkan pergerakan organisasi yang dipimpinnya dengan FPI, Yaqut menegaskan prinsip dakwah yang dianut GP Ansor adalah yang telah diajarkan kiai atau alim ulama NU.

Dalam hal umum, kata Yaqut, ciri dakwah ulama NU itu ada tiga hal yaitu berproses dan bertahap, tidak memberatkan, dan tidak pernah mengancam.

"Cara dakwah NU itu tidak memaksa atau memberatkan, karena Islam mengajarkan seperti itu," tegas Yaqut yang menyatakan tiga hal itu kerap membuat pihaknya dan FPI terkesan berbenturan di lapangan

Yaqut pun menegaskan ciri khas dakwah NU itu terinspirasi dari yang dilakukan Wali Songo dalam membumikan ajaran Islam di Indonesia terutama pulau Jawa.

"Kami meyakini, Ansor, khususnya NU, bahwa Islam itu diturunkan ke muka bumi bukan untuk membentuk akhlak baru. Tapi diturunkan untuk menyempurnakan akhlak yang sudah ada," kata Yaqut merujuk, "Itu, artinya apa? Jadi sebelum Islam turun itu sudah ada akhlak. Islam menyempurnakannya."

"Islam datang untuk menyempurnakan, bukan membuat akhlak baru. Melainkan menyempurnakan akhlak yang sudah ada."

Dalam hal sebagai organisasi massa Islam, Yaqut terus terang menyatakan pihaknya tak sepandang dan sama dengan FPI.

"Kami sepertinya belum menemukan [kesamaan]. Mereka melakukan kekerasan, kami tidak melakukan itu. Mereka dengan memaksakan kehendak, kami tidak tuh memaksakan kehendak," kata Yaqut.

Agama Islam, kata Yaqut, turun ke muka bumi selain untuk menyempurnakan akhlak juga untuk mengendalikan keganasan manusia.

"Itu salah satu tujuan agama mengendalikan keganasan manusia, mengendalikan kebengisan manusia, mengendalikan kekasaran manusia, dan seterusnya. Ketika ada orang mengaku ulama, tetapi omongannya kasar, perilakunya beringas, mencaci orang lain, menistakan orang lain, apa itu ulama?." (Azizian) di ambil dari CNNIndonesia.com