Ciangsana Farm Kambing Qurban

Pernikahan Dini ; Dampak Fisik dan Psikologis

advertise here
Ilustrasi
NU BOGOR TIMUR -

Oleh : Dasem Miyasi    

Dalam suatu hubungan, pernikahan merupakan sesuatu yang sakral bagi kedua mempelai Begitupun dengan keluarga keduanya. Pernikahan merupakan upaya untuk melanjutkan regenerasi dalam suatu keluarga.
Namun sangat disayangkan, di zaman yang semakin maju dan modern ini, masih banyak terjadi pernikahan yang dilakukan oleh anak dibawah umur. Baik yang didasari oleh rasa cinta maupun tidak dari keduanya.
Di zaman yang serba canggih ini, masih saja terjadi pernikahan atas dasar budaya. Masih saja terjadi pernikahan  mengatasnamakan syari'at agama. Padahal jelas-jelas mereka belum cukup umur dan belum cukup siap untuk menghadapi pola hidup yang tentunya akan sangat berbeda dari sebelumnya.
Disisi lain, kurangnya pengetahuan tentang pernikahan mengakibatkan pula terjadinya pernikahan di usia muda. Kemudian tidak jarang pula, anak menjadi korban atas keserakahan orangtuanya. Dengan menikahkan sang anak kepada laki-laki hidung belang yang mampu memberikan keuntungan bagi orangtuanya.
Padahal dari pernikahan tersebut, akan ada dampak yang diakibatkan baik secara fisik maupun psikologis. Adapun dampak secara fisik diantaranya. Sang suami yang seharusnya masih berada di bangku sekolah, kini harus menanggung ekonomi keluarganya dan mulai bekerja, padahal kondisi fisiknya belum sekuat pria dewasa.
Begitu juga dengan sang istri, dia bisa terkena kanker rahim yang diakibatkan sel-sel leher rahim yang belum matang. Kemudian resiko lainnya ketika sang istri hamil diusia muda yang masih senang-senangnya main, ada kemungkinan dia belum bisa merawat kehamilannya secara baik.
Selanjutnya dampak psikologis bagi sang anak, diantaranya: kemungkinan terjadinya neoritis depresi pada sang perempuan, yang bisa menyebabkan tidak mau keluar dan berbaur dengan lingkungan di sekitarnya. Dampak psikologis lainnya yaitu konflik yang berujung kepada perceraian. Dimana baik sang suami maupun sang istri belum bisa mengontrol emosinya masing-masing. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai, tanpa berpikir bagaimana masa depan mereka dan anaknya dikemudian hari.
Sebagai perempuan, saya pribadi merasa hal seperti ini sangat merugikan bagi pihak perempuan. Dia yang belum memiliki pengalaman apapun di dunia luar, akan kesulitan untuk beradaptasi di lingkungan yang baru. Dia akan cenderung lebih tertutup dan bingung harus bagaimana, sedangkan hidup harus tetap berlanjut. Oleh karena itu tidak jarang mereka akhirnya memilih untuk menjadi seorang pegawai seks komersil (PSK).
Jika sudah seperti itu, sang perempuan tidak lagi merasa ada harapan kebahagiaan dalam hidupnya. Karena semua orang akan mencela propesinya Sebagai PSK, begitupun dengan keluarganya.
 
Dasem Miyasi    
tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis