Ciangsana Farm Kambing Qurban

Kajian al-Hikam 58 : Pertanda Hati Mati

advertise here
NU BOGOR TIMUR -

Kajian al-Hikam 58
Pertanda Hati Mati

مِنْ علاَماَتِ مَوْتِ القلبِ عَدَمُ الحُزنِ على ماَ فاَتكَ منَ المُواَفَقاَتِ وَتركُ النَّدَمِ علىَ ما فَعلتهُ من وجودالزَّلاَّتِ.
[
"Sebagai pertanda matinya hati yaitu  tidak merasa sedih meninggalkan suatu amal ibadah yang menjadi rutinitas, dan juga tidak menyesal melakukan perbuatan dosa."


Maqalah diatas menjelaskan bahwa hati seseorang bercahaya atau mati dapat dilihat dari sikapnya. Sebagai tanda2-tanda hati seseorang itu mati ada dua hal:

Pertama, tidak ada kesedihan dan penyesalan disaat meninggalkan amal ibadah yang menjadi rutinitas baik amal yang wajib maupun yang sunnah. Biasanya orang yang sudah istiqamah dalam amal ibadah akan merasa sedih batinnya saat meninggalkannya. Tapi sebaliknya, jika hatinya sudah tidak ada kesedihan lagi berarti cahaya hatinya sedang redup.

Kedua, tidak ada penyesalan saat melakukan dosa baik dosa kecil maupun dosa besar. Biasanya cahaya hati akan mulai pada  berawal dari melakukan dosa-dosa kecil yang dibiasakan dan dilakukan secara terus menerus bisa berubah menjadi dosa besar. Sebab tiap dosa dilakukan akan meninggalkan bekas noda hitam di dalam hati. Jika noda hitam terus bertambah tiap hari tanpa ada upaya untuk memperbersihkannya maka noda-noda tersebut akan memenuhi ruang hati, sehingga semakin lama hati semakin gelap dan semakin keras, sehingga dampaknya disaat meninggalkan ibadah dan melakukan kemaksiatan sikapnya cuek, tidak merasa dosa bahkan tidak ada penyesalan. Itulah pertanda hati yang mati. Karena itu, jangan biarkan hati kita mati kehilangan cahaya iman. Mari dekati sumber-sumber cahaya yaitu para ulama dan para kyai yang ikhlas dalan berjuang dan istiqamah dalam beribadah kepada Allah, sehingga nasehat-nasehatnya mampu masuk menembus relung hati kita.

Semoga Allah membimbing kita dapat istiqamah menjaga kebersihan hati dari segala kegelapan.

Dr. KH. Ali M. Abdillah, MA
al-Rabbani Islamic College