Ciangsana Farm Kambing Qurban

Kajian Tafsir Sufistik (Tafsir al-Jailany Surat al-An'am ayat 1 bag.2) : Mengurai Makna Samawat dan Ardh, Dhulumat dan Nur

advertise here
NU BOGOR TIMUR -



Kajian Tafsir Sufistik (Tafsir al-Jailany Surat al-An'am ayat 1 bag.2)
Mengurai Makna Samawat dan Ardh, Dhulumat dan Nur

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ۖ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan terang, namun demikian orang-orang kafir masih mempersekutukan Tuhan mereka dengan sesuatu.
(QS.  Al-An'am:1)

Penjelasan kali ini sebagai lanjutan dari sebelumnya bahwa Allah telah menciptakan langit dan bumi. Kata al-samawat artinya langit dan kata al-ardh artinya bumi ditafsiri secara lebih subtantif dan mendalam. Kata al-sawamat ditafsiri terkait dengan sifat-sifat dan nama-nama ketuhanan yang uluwwi yaitu menempati posisi tertnggi, sedangkan kata al-ardh ditafsiri terkait dengan hal-hal yang bersifat tabiat dan hawa nafsu manusiawi yang rendah. Jadi kata al-samawat memiliki makna terkait dengan hal-hal yang bersifat spiritualitas karena membahas tentang ilmu-ilmu ketuhanan yang tinggi. Menurut para sufi,  ilmu-ilmu ketuhanan merupakan ilmu tinggi bukan konsumsi orang awam. Mereka memperoleh anugerah dari Allah sehingga  dalam memahami ilmu-ilmu Ilahiyah dengan mendapatkan bimbingan yang benar sehingga terhindar dari penyimpangan. Mereka terbuka hijabnya dalam menyaksikan secara nyata af'al, asma', sifat dan dhat-Nya. Ini merupakan anugerah terindah dari Allah karena telah memperoleh cahaya ilahiyah yaitu al-nur.

Sebaliknya, manusia yang masih berkutat pada hawa nafsu dan tabiatnya bahkan masih dikuasainya maka manusia yang demikian memiliki karakter buruk karena nafsu kebinatangan dan nafsu syaitaniyah telah menguasai dan menyandera dirinya. Mereka diibaratkan dalam kegelapan (dhulumat). Mereka tersandera oleh hawa nafsunya sehingga akan jatuh pada kubangan kehinaan karena mereka dalam dhulumat (kegelapan batiniahnya). Mereka sangat sulit untuk bisa menaiki jenjang-jenjang ruhani dan memasuki pintu-pintu Ilahiyah selama masih dikuasai tabiat hawa nafsunya.

Namun demikian, di akhir ayat tersebut dijelaskan ternyata masih banyak manusia yang menolak dan inkar terhadap kebenaran karena mereka masih terhijabi oleh ego, gengsi dan kebodohan dirinya, seolah-olah dirinya merasa dalam jalan kebenaran dan merasa paling tahu dari yang lainnya, ternyata mereka masih dalam kegelapan. Na'udzubillah min dzalik.
Semoga Allah membukakan jalan kita supaya bisa keluar dari tabiat dan karakter nafsu manusia yang rendah dan hina dan dapat melangkah menuju jalan-jalan Tuhan yang terhampar indah dan penuh pesona.

Dr. KH. Ali M Abdillah, MA
al-Rabbani Islamic College