Ciangsana Farm Kambing Qurban

Kajian al-Hikam (51) : Hijrah Menuju Allah

advertise here
NU BOGOR TIMUR -

Kajian al-Hikam (51)
Hijrah Menuju Allah

وَانْظـُرْ الٰى قَولهِ صلَي اللهُ عليهِ وَسَلَّمَ : فمَنْ كاَنَتْ هِجْرَتُهُ الىَ اللهِ وَرَسُوله فَهِجْرَتهُ الى اللهِ وَرَسُولهِ. ومن كاَنَتْ هِجْرَتُهُ الىَ دُنْياَ يُصِيبُهاَ اَوِامْرَأَةٍ يَتزَوَّجُهاَ فَهِجرَتهُ الٰي ما هاَجَرَ اِليهِ. فاَفْهَم قولَهُ عَلَيهِ الصَّلاةُ والسَّلامُ وَتأمَّلْ هٰذاَ الاَمر َاِنْ كُنْتَ ذاَفهْمٍ

"Dan perhatikan sabda Nabi Muhammad SAW : 'Maka barangsiapa yang berhijrah menuju kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena ingin meraih kekayaan duniawi, maka dia akan menmperolehnya, atau karena perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya terhenti sesuai niat hijrahnya. Perhatikan sabda Nabi SAW tersebut dan perhatikanlah persoalan ini jika engkau mempunyai kecerdasan. Pahamilah."

Maqalah diatas merupakan kutipan dari hadits Nabi Muhammad SAW berkaitan niat dalam hijrah. Jika niat hijrahnya ikhlas karena Allah dan Rasul-Nya maka pasti akan memperoleh limpahan balasan dari sisi Allah baik di dunia maupun di akherat kelak. Tapi sebaliknya jika niat hijrahnya karena ingin meraih duniawi atau menikahi wanita maka apa yang diniatkan akan diperolehnya namun di akherat kelak menjadi orang yang merugi karena balasan amal ibadahnya sudah diambil di dunia.

Hijrah memiliki makna lebih luas bukan sebatas pindah dari suatu kota ke kota lain tapi hijrah memiliki makna subtantif yaitu hijrah kita dari kehidupan duniawi menuju ukhrawi. Maksudnya kita harus mampu merubah paradigma hidup kita dari orientasi duniawi menjadi ukhrawi. Jika kita mampu merubah paradigma tersebut maka kita akan memperoleh kebahagian dunia dan akherat. Sebab di dalam al-Qur'an telah dijelaskan bahwa orang-orang yang memiliki keinginan perjumpaan dengan Allah maka perjumpaan itu pasti terjadi, asal memenuhi syaratnya yaitu beramal shaleh dan tidak melakukan kesyirikan dalam ibadahnya dengan seorang juapun. Dalam haditspun dijelaskan bahwa respon Allah lebih cepat terhadap orang-orang yang melangkah menuju kepada-Nya. Jika ia berjalan menuju Allag dengan berjalan kaki maka Allah akan menjemputnya denga berlari.

Perlu kita pahami bahwa hakikat manusia itu makhluk hijrah mulai dari alam arwah hijrah di alam rahim, dari alam rahim hijrah ke alan dunia, dari alam dunia akan hijrah ke alam barjazakh, dari alam barzakh kita akan hijrah ke alam mahsyar, dari alam mahsyar akan hijrah ke yaumil hisab, setelah kita menerima amal baik dan buruk selama di dunia maka saat itu sudah ada keputusan resmi apakah kita akan menjadi penduduk syurga atau neraka. Alangkah menyesalnya jika dalam catatan buku amal kita ternyata banyak minusnya karena disebabkan niat amal ibadah kita selama di dunia bukan karena Allah melainkan ada tujuan selain Allah yaitu ingin diketahui dan dipuji org (riya'), ingin memperoleh balasan langsung di dunia. Penyesalan di akherat tidak akan berarti.

Karena itu, mari kita perbaiki niat ibadah kita semata-mata karena Allah. Inilah makna hijrah yang sesungguhnya. Semoga Allah membimbing kita senantiasa dapat  istiqamah berjuang di jalan-Nya baik dengan ilmu, harta maupun jiwa.

Dr. KH. Ali M. Abdillah, MA
al-Rabbani Islamic College
Nagrak, Gunung Putri Bogor