Ciangsana Farm Kambing Qurban

Kajian al-Hikam (66) : Amal yang terputus

advertise here
Dr. KH. Ali M. Abdillah MA
NU BOGOR TIMUR -

Kajian al-Hikam 66
Amal yang terputus

mengambil salah satu dari kedua hal tersebut dari-Ku, maka Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.
قطَعَ السَّاءـرينَ لهُ والواَصِلين اليه  عِنْ رُوءْيَةِ أعْمالهِمْ وَشُهُودِ أحْوالهِمْ. أمَّاالسّاءـرُونَ فَلاَِ َنَّهُمْ لَمْ يَتحَقــَّقوا الصِّدْقَ مَعَ اللهِ فِيهاَ. أمَّ الواَصِلوُنَ فَلاَِ َنَّهُمْ غيبهُمْ بِشُهُودِهِ عَنْهاَ
"Allah telah memutus amal orang-orang yang berjalan menuju kepada-Nya, dan orang-orang yang telah sampai kepada-Nya disebakan dua hal yaitu melihat amal-amalnya dan memandang sikap dirinya sendiri. Adapun orang-orang yang terhenti perjalanannya menuju Allah karena keyakinan mereka belum tahqiq yakin secara benar kepada Allah dalam ibadahnya. Sedangkan orang-orang yang sampai kepada Allah sikap mereka menyirnakan keakuan dirinya dengan memandang Allah dalam ibadahnya."

Maqalah diatas menjelaskan ada dua kriteria orang beramal: yaitu orang yang tidak sampai kepada Allah dan orang yang sampai kepada Allah. Kedua hal tersebut tentu ada faktor penyebabnya. Penyebab orang yang terputus perjalananya menuju Allah karena dalam amalnya masih melihat keakuan dirinya, seolah-seolah dirinya merasa hebat bisa beramal. Padahal di dalami beramal tidak dibenarkan merasa dirinya bisa melakukan amal. Sikap yang demikian merupakan sikap orang yang terhijab karena tidak mampu melihat Allah dalam amalnya  melainkan hanya melihat dirinya sendiri. Inilah faktor terhentinya seorang hamba dalam menuju Allah.

Sementara sikap orang-orang yang telah sampai kepada Allah senantiasa memandang Allah dalam semua amalnya sehingga keakuan dirinya sudah zero/kosong. Maka sikap yang demikian dapat menghantarkan akan sampai kepada Allah. Karena itu, mari kita terus membenahi diri dalam beramal. Jangan sampai kita sudah merasa memiliki amal yang banyak ternyata di hadapan Allah masih minus karena salah keyakinan saat beramal.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita dapat terus membenahi diri dalam beramal sehingga amal kita benar-benar memiliki kualitas bukan kwantitas semata.

Dr. KH. Ali M. Abdillah, MA
al-Rabbani Islamic College