Ciangsana Farm Kambing Qurban

Kajian al-Hikam (75) : Nikmatnya Amal

advertise here
NU BOGOR TIMUR -

Kajian al-Hikam 75
Nikmatnya Amal

مَنْ وجَدَ ثمَرَة َعملِهِ عاَجِلا ً فَهُو دَليلٌ علٰى وُجودِ القبولِ اٰجِلا ً
"Barangsiapa merasakan hasil dari kenikmatan amal ibadahnya di dunia ini, maka hal itu sebagai pertanda diterimanya amal oleh Allah di akhirat."

Maqalah di atas menjelaskan kedudukan orang yang sudah merasakan kenikmatan amal ibadahnya saat masih di dunia. Kunci dapat merasakan nikmatnya ibadah ketika hati sudah bisa mengamalkan ikhlas. Orang yang hatinya sudah ikhlas dalam beramal niscaya akan tumbuhnya mahabbah yaitu kecintaan kepada Allah. Jika sudah merasakan mahabbah dalam amalnya maka baru bisa merasakan nikmatnya amal ibadah. Merasakan kenikmatan ibadah merupakan anugerah Ilahiyah yang dirasakan para pecinta. Maka amal ibadah yang didasari dengan cinta tidak akan ada rasa bosan dan keterpaksaan dalam ibadahnya, yang ada hanya rasa cinta yang bergelora di dalam hatinya. Itulah dhauq (rasa spiritual) orang-orang yang bergelora cintanya kepada Allah sehingga dalam melaksanakan ibadah yang ada hanya kenikmatan. Ibarat seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dan kasmaran dengan pujaan hatinya, maka apapun perintah dan permintaan sang pujaan hati akan dilaksanakan tanpa merasakan beban berat dalam dirinya. Itulah cinta kepada makhluk sebagai perumpamaan. Tidak jauh beda jika hati kita sudah tumbuh cinta kepada Allah maka yang ada hanya kenikmatan dalam beribadah. Bagi para pecinta dalam shalatnya akan merasakan kemesraan (khusu' dan hudhurullah) antara yang dicinta dan mencinta. Dalam zikirnya akan merasakan nikmatnya 'ain al-madkur (esensi yang dizikiri). Dalam shalat malamnya merasakan gelora kenikmatan yang luar biasa seolah sedang berjumpa dengan sang kekasih. Itulah kenikmatan cinta kepada Allah sehingga dalam ibadahnya merasakan kenikmatan.

Berbeda dengan ibadahnya orang awam yang tidak ada cinta di dalamnya maka ibadah yang dilaksanakan hampa sekedar menghilangkan beban tugas. Ibarat karyawan yang menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Tidak bisa menikmati dalam melaksanakan tugasnya. Begitu juga dalam ibadah, orang awam hanya sekedar melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya tanpa merasakan nikmat di dalamnya. Seperti ketika melaksanakan shalat hanya melepas beban saja dari takbir hingga salam sama sekali tidak ingat Allah. Itulah contoh orang yang ibadah tapi dalam hatinya tidak ada cinta. Berbeda dengan orang yang hatinya ada benih-benih cinta kepada Allah niscaya dalam takbirnya merasakan kemesraan dan kenikmatan karena hatinya sudah hudhurullah yaitu memiliki kesadaran mengingat Allah. Itulah ibadah orang-orang yang telah mencapai ihsan sehingga mampu beribadah kepada Allah seolah-olah menyaksikan-Nya.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita dapat beribadah yang didasari dengan CINTA sehingga dapat merasakan nikmatnya ibadah.

DR. KH. Ali M. Abdillah, MA

al-Rabbani Islamic College, Nagrak, Gunungputri, Bogor