Ciangsana Farm Kambing Qurban

Kajian al-Hikam (76) : Kedudukan di Sisi Allah

advertise here
NU BOGOR TIMUR -

Kajian al-Hikam 76
Kedudukan di Sisi Allah

اِذاَ اَردتَ اَنْ تَعْرِفَ قدرَكَ عِندهُ فاَنْظُرْ ماَذاَ يُقِيمكَ فيهِ

''Jika kamu ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, maka lihatlah di mana Allah menempatkan dirimu.''

Maqalah diatas menjelaskan bahwa seringkali seorang hamba ingin tahu kedudukan dirinya di hadapan Allah. Shaykh Ibn Athaillah menjelaskan, untuk mengetahui posisimu di hadapan Allah maka lihatlah posisimu di mana ditempatkan oleh Allah. Dalam hal ini, ada tingkatan maqam (kedudukan) dalam Islam: fasiqin, munafiqin, muslimin, mu'munin, muhsinin. Fasiqin yaitu orang Islam yang masih membiasakan diri berbuat dosa; munafiqin yaitu orang Islam jika bicara berdusta, jika berjanji tidak ditepati, jika dipercaya berkhianat; muslimun yaitu orang Islam yang sudah melaksanakan 5 rukun Islam, mu'minun yaitu orang Islam yang menyakini 6 rukun iman; muhsinin yaitu orang yang sudah menyaksikan Allah dalam ibadahnya atau menyakini disaksikan oleh Allah.

Dalam dunia tasawuf ada 3 klasifikasi kedudukan hamba yaitu awam, khusus dan khususul khusus. Awam yaitu orang Islam yang akidahnya masih lemah, sudah menyakini Allah tapi tidak tahu dalil aqli dan naqlinya. Maqam khusus yaitu menyakini adanya Allah sekaligus memahami dalil aqli dan naqli dan keyakinannya telah berproses mulai dari ilmul yaqin, 'ainul yaqin hingga haqqul yaqin. Maqam khususul khusus yaitu maqam para auliya dan arifin billah yang memiliki kesadaran selalu ingat kepada Allah tanpa  melupakan-Nya.

Karena itu, klasifikasi di atas dapat mengidentifikasi bagaimana kualitas ibadah seorang hamba di sisi Allah. Seperti orang dalam melaksanakan shalat tiap orang yang memiliki kedudukan akan merasakan yang berbeda. Orang awam dalam melaksanakan shalat dan zikir masih sebatas gerakan lahiriyah dan sebatas di lisan maka shalatnya masuk kategori ghafilun yaitu shalatnya orang-orang yang lalai mengingat Allah, mulai dari takbir hingga salam sama sekali tidak ingat Allah. Zikirnya sebatas di lisan belum mampu menembus ke dalam hati.

Sedangkan orang khusus dalam melaksanakan ibadah sudah merasakan kenikmatan ibadah karena sudah mulai tersingkap aspek batiniyahnya. Shalatnya telah mencapai derajat khasi'un yaitu orang yang  khusu' (mesra) dalam ibadahnya. Sementara orang pada maqam khususul khusus dalam melaksanakan ibadah sudah mampu menyaksikan Allah tanpa terlewatkan sedikitpun dari memandang wujudullah. Itulah tingkatan orang-orang di sisi Allah.

Karena itu, kita harus mengoreksi diri kita sendiri secara jujur kira-kira posisi kita berada dimana disitulah posisi kita di hadapan Allah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam meningkatkan kualitas keyakinan dan ibadah kita.

DR. KH. Ali M. Abdillah, MA

al-Rabbani Islamic College, Nagrak, Gunungputri, Bogor