Ciangsana Farm Kambing Qurban

Kajian al-Hikam (90) ; Meningkatkan Kualitas Ibadah

advertise here
NU BOGOR TIMUR -



Kajian al-Hikam (90)
Meningkatkan Kualitas Ibadah

مَنْ عَبَدَهُ لِشىءٍ يَرْجُوهُ مِنْهُ اَوْلِيَدْفَعَ بِطاَعَتِهِ وُرودُ العُقُوبَةِ عَنْهُ فَماَ قَاَمَ بِحَقِّ اَوْصَافِهِ

”Barang siapa yang menyembah Allah karena  sesuatu yang diharapkannya, atau dalam melaksanakan ketaatan ada niat supaya dapat menolak siksa atas dirinya, maka orang tersebut belum memenuhi tugas atas sifat-sifat kehambaannya.”

Maqalah di atas menjelaskan tentang pentingnya beribadah secara ikhlas. Pada umumnya orang beribadah dimotivasi oleh sesuatu harapan, seperti ingin memperoleh pahala dan surga, atau supaya terhindar dari dosa dan jilatan api neraka. Niat beribadah yg demikian menurut para sufi dianggap sebagai sifat kekanak-kanakan seorang hamba, karena semangat ibadahnya hanya ingin memperoleh sesuatu selain Allah seperti ingin pahala dan surga dan takut dosa dan neraka. Sikap yg demikian persis seperti sikapnya anak kecil ketika dikasih iming-iming sesuatu baru mau menjalankan perintah atau karena ditakut-takutin dengan sesuatu baru melaksanakannya. Padahal ibadah yang demikian belum mencapai keikhlasan karena masih ada lintasan harapan sesuatu selain Allah. Ibadah yang ikhlas yaitu ibadah yang semata-mata dilakukan karena Allah bukan karena iming-iming dan ancaman.
 Bagi para sufi dalam melaksanakan ibadah niatnya semata-mata karena Allah yang didasari cinta yang hakiki. Semangat ibadahnya didasari kerinduan yang mendalam kepada Sang Kekasih (al-mahbub) sehingga merasakan kenikmatan dalam beribadah. Ibadahnya para sufi mengutamakan kualitas bukan kuantitas sebagaimana orang awam.
Semoga kita dapat terus mengasah potensi ruhani kita sehingga kita bisa memperbaiki kualitas amal ibadah kita sehingga muncul benih-benih cinta (mahabbah) dan kerinduan (tsauq) dalam melaksanakan ibadah.

Dr. KH. Ali M. Abdillah, MA
al-Rabbani Islamic College, Nagrak, Gunung Putri, Bogor