Ciangsana Farm Kambing Qurban

Kajian al-Hikam (94) : Maksiat yang dapat mendekatkan diri kepada Allah

advertise here
NU BOGOR TIMUR -



Kajian al-Hikam 94
Maksiat yang dapat mendekatkan diri kepada Allah

مَعْصِيَة ٌ اَورَثـْتَ ذُلاًّ واَفـْتِقَاراً خَيرٌ من طاَعةٍ اَوْرَثـْتَ عِزًّ واسْتِكباَراً
Perbuatan maksiat yang dapat menyebabkan tumbuhnya kesadaran merasa hina di hadapan Allah dan sangat membutuhkan rahmat Allah lebih baik daripada perbuatan taat yang dapat menumbuhkan sikap merasa paling suci (mulia) dan sombong (merendahkan orang lain).”

Maqalah di atas sebagai lanjutan dari maqalah sebelumnya bahwa orang berbuat maksiat yang dapat menyebabkan dirinya merasa hina di hadapan Allah lalu bertaubat nasuha memohon ampunan kepada Allah dengan bersungguh-sungguh dan terus memperbaiki diri, ibadah dan akhaknya.

Sikap yang demikian lebih baik daripada orang yang ahli ibadah  tapi di dalam hatinya dipenuhi penyakit-penyakit batiniyah sepertu  'ujub (merasa bangga diri bisa melakukan ibadah), riya' (pamer ketaatan kepada orang lain) dan takabur yaitu sombong merasa paling suci, merasa paling berhak sebagai penghuni surga sehingga merendahkan orang lain yang belum menjalankan ibadah.

Sikap yang demikian ternyata sangat hina di hadapan Allah sekalipun secara lahiriyah nampak ahli ibadah tapi batiniyahnya dikuasai sifat iblis. Dalam hadits dijelaskan bahwa Allah tidak melihat aspek lahiriyahmu yaitu fisik dan rupa namun Allah melihat kebeningan dan kejernihan hatimu.

Karena itu, mari kita memperbaiki diri dalam membersihkan kotoran-kotoran batiniyah yang dapat menjadi penghalang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Selama diri kita masih dikuasai nafsu-nafsu yang tercela selama itu pula kita akan dikendalikan sehingga kita akan semakin jauh dari jalan menuju Allah.

Semoga Allah membimbing kita menjadi hamba yang terus memperbaiki kotoran-kotoran batiniyah kita.

DR. KH. Ali M. Abdillah, MA
al-Rabbani Islamic College, Nagrak, Gunungputri, Bogor