Ciangsana Farm Kambing Qurban

Ilustrasi Pendewasaan Politik dalam Konteks Pilgub Jabar dan Pilbup Kabupaten Cirebon

advertise here
NU BOGOR TIMUR - Oleh : Mamang M Haerudin
Pengundian dan pengumuman nomor paslon oleh KPU untuk Pemilihan Gubernur (Pilgub) dan Pemilihan Bupati (Pilbup)/Pemilihan Walikota (Pilwalkot) serentak 2018 sudah resmi digelar. Masing-masing paslon sudah mengantongi nomor dan mengklaim nomornya sebagai nomor yang keramat, hoki dan akan membawa kemenangan. Masing-masing parpol dan pendukungnya bersorak-sorai, bergemuruh kegirangan, mengelu-elukan jagoannya.

Pada dasarnya Pilgub maupun Pilbup adalah ikhtiar menuju perubahan yang lebih baik dalam iklim demokrasi. Hanya saja perubahan itu tak bisa dilepaskan dari kapasitas dan kualitas calon pemimpin daerah. Apakah para paslon tersebut mempunyai track record (rekam jejak) yang baik atau tidak? Apakah berintegritas atau tidak? Pasalnya menemukan pemimpin daerah yang jujur dan berintegritas di negeri ini masih sulit.

Untuk gambaran pemimpin daerah yang berintegritas itu sedikitnya kita mengenal sederet nama: Joko Widodo, Ahok, Ridwan Kamil, Yoyok Sudibyo, Tri Rismaharini, Emil Dardak, Ganjar Pranowo, Nurdin Abdullah dan Dedi Mulyadi. Mereka mampu membuktikan kinerja blusukan dan berhasil mengabdikan banyak program yang manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat. Sederet nama tersebut tentu bukan hanya karena sering diliput media. Kinerja mereka out of the box, melampaui pakem formalitas para pemimpin daerah kebanyakan.

Saya ambil contoh ketika Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta. Program-program inovatif digulirkan, reformasi birokrasi yang tegas, memberantas korupsi, menumpas para koruptor, termasuk setiap hari melayani langsung satu per satu keluhan masyarakat tanpa tapi dan tanpa nanti. Semuanya beres dan disiarkan langsung. Hampir semua rapat penting bersama SKPD terkait dapat disaksikan langsung melalui media sosial. Banyak pejabat 'bodoh' yang kena damprat dan pecat sang Gubernur Ahok. Karena Ahok, saya menjadi tahu, ternyata banyak pejabat yang bodoh dan dungu.

Maka, untuk konteks Pilbub Jabar, sedikitpun saya tidak ada rasa khawatir. Apa sebab? Karena dalam kontestasi Jabar ada dua sosok hebat yakni Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil. Saya yakin sekali, salah satu di antara dari mereka berdua akan terpilih. Dan siapapun yang terpilih insya Allah akan mampu membawa perubahan bagi Jabar karena masing-masing telah teruji di Bandung dan Purwakarta. Kampanye SARA sekalipun tidak akan mempan di Jabar.


Nah ilustrasi inilah yang saya maksud bagian dari pendewasaan politik kita. Agar keputusan memilih kita didasari oleh logika dan hati nurani bukan sekadar persoalan dukung-mendukung mengandalkan kedekatan (karena teman, saudara, keluarga dlsb), bukan asal NU, bukan asal karena kebaikan pribadi. Komitmen dan integritas ini yang belum atau tidak saya temukan sama sekali dari ke empat paslon Cabup/Cawabup Kabupaten Cirebon.

Baik petahana maupun ketiga paslon yang lain betul-betul masih jauh dari harapan. Track record ke empat paslon belum teruji. Petahana saja yang oleh masyarakat sedang diberi kepercayaan, hampir-hampir tak punya program dan prestasi yang membanggakan. Roda pemerintahan berjalan hanya sebatas formalitas dan kerja-kerja rutin, tradisi birokrasi yang acak-acakan, kualitas para anggota DPRD yang tak bisa diandalkan dan banyak lagi kemunduran yang lain. Apalagi rekam jejak tiga paslon yang lain, mereka muncul dengan 'ujug-ujug' dan 'bim-salabim.' Mata dan hati saya tidak bisa berbohong.

Akhirnya, sampai hari ini, saya siap jihad politik dan berkampanye secara cuma-cuma, tanpa ada ikatan politik apapun, tanpa dibayar untuk keperluan Pilgub Jabar dalam ikhtiar mendukung Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil. Sementara untuk konteks Pilbup Kabupaten Cirebon, saya memilih realistis (bukan pesimistis), yakni menimbang untuk golput dan netral. Jadi itulah posisi komitmen politik saya, bukan komitmen politik bayaran dan politik buta. Catatan ini sengaja saya tulis untuk menjawab pertanyaan bertubi-tubi semalam di grup WA NU Cirebon dan sebagai ikhtiar pendewasaan/pendidikan politik bagi saya dan mudah-mudahan bagi yang lain. Wallaahu a'lam