Ciangsana Farm Kambing Qurban

Bersama Menjaga NU

advertise here
NU BOGOR TIMUR - Legalitas keormasan HTI memang sudah dicabut dan dibubarkan. Tetapi ketahuilah, ideologi mereka semakin jahat dan militan. Semakin ditekan, semakin diberangus, justru akan semakin merasa dizalimi, seruan jihad membela Islam akan semakin mengganas. Itulah militansi kelompok radikal. Dan suatu hal yang tidak mungkin, paska dibubarkannya HTI, mereka kini sedang terus membangun strategi, mengintai kelemahan NU, dan pada saat mereka anggap tepat waktunya, propaganda mereka akan digaungkan besar-besaran.


Lama sebelum HTI dibubarkan, kelompok radikal ini punya kelihaian dalam adaptasi, daya tunggang dan kamuflase gerakan. Mereka paling pandai memanfaatkan keadaan. Mereka mengalah satu langkah demi ambisi kemenangan seribu langkah. Mereka ikut tahlilan, marhabanan, maulidan dll demi mencuri perhatian maayarakat. Dakwah mereka pembawaannya santun padahal aslinya kejamnya bukan main. Apalagi sekarang zaman media sosial, tim cyber-pun dikerahkan dengan sedemikian rupa. Seruan-seruan hijad melawan--apa yang mereka anggap sebagai--kezaliman didesain sedemikian rupa melalui meme, artikel singkat, video singkat, buku keislaman dlsj yang mampu membakar semangat penganutnya.

Di antaranya Felix Siauw dalam konteks nasional. Dan di daerah ada Irkham Fahmi, yang sudah sejak lama mencatut nama NU dan para kiai pesantren untuk kepentingan propagandanya. Selain bisa berorasi, berceramah, dia punya kemampuan menulis cepat dan provokatif. Sebuah jenis tulisan yang bisa menggerakkan pikiran orang agar terpancing emosinya, seolah-olah Islam di Indonesia sedang dicabik-cabik.

Dan paska Pilkada Jakarta, kelompok radikal semakin berani. Para pentolan HTI dan kelompok radikal yang lain saling membahu untuk satu tujuan: menghancurkan NU dan NKRI. Dengan segala cara mereka memutarbalikkan fakta. Sudah berani menuding dan memojokkan kiai, yang terbaru mereka (termasuk di dalamnya Irkham Fahmi) telah berani menggertak dan menuding Dr. KH. Abbas Bil Yachsy Fuad Hasyim. Kang Babas dituding telah melakukan ujaran kebencian. Padahal Irkham Fahmi yang justru sedang melakukan pembunuhan karakter dan pencemaran nama baik Kang Babas sebagai ulama yang ditakdimi di kalangan nahdliyin.

Irkham Fahmi ini memang punya amunisi, dia tahu persis posisinya sekarang di mana. Dia alumni salah satu Pesantren di Babakan, Ciwaringin. Dia pasti tahu tradisi NU dan kebiasaan hidup di pesantren. Ketika dia masuk dunia kampus, dia merasa kagum (tertipu) dengan utopia HTI. Dan malah 'murtad' dari NU ke HTI. Bahkan sekarang menjadi jubirnya. Kini Irkham Fahmi semakin menggila, sudah berani menyatakan bahwa NU inkonsisten dan mencap haram agar Banser tidak mematuhi nasihat para kiai NU. Ini berbahaya.

Perlu saya tegaskan. NU kepada HTI, FPI dan siapapun bukan sedang menaruh kebencian. NU hanya sedang memberi penegasan agar kelompok radikal semacam HTI, FPI dan sejenisnya untuk tidak mendakwahkan Islam dengan garang, melakukan politisasi agama dan hendak merusak NKRI menjadi Khilafah Islamiyah/Negara Islam. Kang Babas, saya dan warga nahdliyin semuanya tidak sedang menyampaikan mauizah hasanah dengan maksud mengujar kebencian.

NU punya misi rahmatan lil'alamin dengan fondasi akhlakul karimah dan kebangsaan (nasionalisme). NU akan bersahabat dan menjaga ukhuwah dengan siapapun tanpa pandang apa agama dan apa kepercayaannya. Karena bagi NU berbeda agama bukanlah masalah. Perbedaan agama justru rahmat. Dan karena itulah GP Ansor dan Banser selalu siap menjaga rumah ibadah agama apapun (bukan cuma gereja) dan manusia jenis apapun dari gangguan kelompok radikal. Karena bagi NU kita semua bersaudara dalam naungan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Mari kita bersama menjaga NU. Menjaga NU berarti menjaga NKRI. Wallaahu a'lam

Penulis, Mamang M Haerudin (Aa) / Pesantren Bersama Al-Insaaniyyah