Ciangsana Farm Kambing Qurban

Kajian al-Hikam (113) : Malu Menuntut Balasan Amal

advertise here
NU BOGOR TIMURKajian al-Hikam 113 Malu Menuntut Balasan Amal


متى طلبت عواضا على عمل طولبت بوجود الصدق فيه ويكفي المريب وجدان السلامة
 ”Ketika kamu menuntut balasan  atas  amalmu, maka kamu akan dituntut kualitas amalmu. Dan cukup bagi orang yang merasa banyak kekurangan dalam beramal yaitu melakukan interopeksi sebagai cara memperoleh keselamatan."

Maqalah diatas menjelaskan bahwa orang yang beramal ada beberapa tingkatan. Adakalanya dalam melakukan amal menuntut balasan dari Allah, seperti orang yang telah melaksanalan shalat lalu menuntut Allah diberi pahala dan surga sementara niat dalam beramalnya masih cacat belum mencapai keikhlasan karena masih ada lintasan ingin surga dan pahala. Padahal idealnya niat beramal semata-mata karena Allah bukan karena selain Allah, sedangkan pahala dan surga termasuk sesuatu selain Allah. Jika dalam beramalnya dituntut kualitas demikian niscaya sangat jauh bahkan tidak layak berharap balasan pahala dan surga, sebab dalam beramalnya belum ada keikhlasan.

Karena itu, kita perlu menyadari kekurangan kita karena kualitas ibadah kita yang masih banyak cacat sehingga tidak layak untuk mendapatkan balasan dari Allah. Dengan terus melakukan koreksi atas cacat dan kekurangan amal kita maka kita akan terus memperbaiki diri untuk meningkatkan kualitas amal kita menjadi lebih baik sehingga layak diterima oleh Allah. Dengan demikian, kita akan merasa malu di hadapan Allah jika masih ada lintasan tuntutan kepada Allah atas amal yang kita lakukan.
Semoga Allah senantiasa membuka kekurangan dan cacat amal kita sehingga kita bisa terus memperbaikinya.

Dr. KH. Ali M. Abdillah, MA
al-Rabbani Islamic College
Nagrak Gunungputri Bogor