Ciangsana Farm Kambing Qurban

Pertanyaan untuk Istri: Pilih Bekerja atau Ibu Rumah Tangga Saja?

advertise here
NU BOGOR TIMUR - Saya ingin ikut melerai 'pertarungan',  antara istri yang bekerja atau di rumah saja menjadi ibu rumah tangga. Saya melihat keduanya pilihan yang sama-sama baik. Jadi kita tidak perlu mempertentangkan, apalagi terlibat gontok-gontokan antara istri bekerja atau menjadi ibu rumah tangga saja. Kita harus menghormati apapun keputusan para istri. Meskipun bisa saja para istri tetap meminta pandangan suami.

Saya juga melihat, ada istri yang merasa nyaman dengan aktivitas bekerjanya, selain ada juga yang nyaman dengan aktivitas di dalam rumah saja. Mengurus anak dan mengerjakan urusan rumah tangga yang lain seperti memasak, mencuci, menyetrika dan lain sejenisnya. Ada keluarga yang merasa rezekinya berkah karena istrinya bekerja, selain ada juga keluarga yang merasa rezekinya berkah karena mengurus rumah tangga saja.

Saya sendiri banyak menemukan sebuah rumah tangga di mana istri maupun suaminya bekerja, tetapi hampir tidak ada masalah yang berarti dengan anak-anak dan rezekinya. Begitu juga saya menemukan sebuah keluarga yang istrinya berpendidikan tinggi tetapi mantap memutuskan untuk di rumah saja, fokus mengurus anak-anak. Sekali lagi, semua itu pilihan yang baik, sebab hidup ini adalah pilihan. Sepanjang diniati karena ibadah dan dilakukan dengan penuh keyakinan, apapun pilihannya akan menemukan keberkahan.

Tetapi yang harus diingat adalah jangan pernah membandingkan kehidupan rumah tangga kita dengan orang lain secara saklek. Kita hanya boleh belajar atau meneladani kehidupan orang lain yang baik, tetapi tidak mesti secara keseluruhan. Karena hidup ini berwarna dan penuh perbedaan. Bisa jadi lika-liku rumah tangga kita ada kemiripan dengan orang lain, bisa juga berbeda dengan orang lain. Dalam perjalanannya hidup dan rumah tangga itu tak seindah dan seromantis film Korea.

Kita juga mesti memahami bahwa keberkahan rumah tangga tidak identik dengan banyaknya kepemilikan harta dunia: uang banyak, rumah megah, mobil mewah, dan lain sebagainya. Bisa jadi rumah tangga kita tidak punya uang banyak tetapi anak-anak kita tumbuh dengan sehat, berprestasi. Suami senantiasa setia kepada istrinya dan begitu juga sebaliknya. Ini kekayaan yang tiada harganya. Tetapi coba kita lihat, tidak jarang, ada istri dan suami yang uangnya banyak tetapi rumah tangganya dipenuhi prahara.

Istri bekerja bukan berarti ingin menyaingi suami. Justru suami mestinya bersyukur punya istri yang mampu mengabdikan ilmunya kepada masyarakat. Lagi pula, kewajiban mendidik anak dan mengurus rumah tangga adalah kewajiban dan kebutuhan bersama antara istri dan suami. Siapa bilang mendidik anak dan mengurus pekerjaan rumah tangga hanya menjadi kewajiban istri? Islam tidak pernah punya ajaran seperti demikian. Ini termasuk pemahaman yang sering dialpakan oleh para suami.

Kita juga tidak boleh memandang rendah para istri yang hanya memilih di rumah saja. Istri yang di rumah tidak mesti lebih sedikit kebaikannya ketimbang istri yang bekerja. Yang berbahaya itu apabila pilihan tinggal di rumah saja menjadi ibu rumah tangga adalah karena pilihan ideologis dan politik identitas. Menganggap bahwa istri yang bekerja itu adalah istri yang menyalahi kodrat, istri yang tidak akan becus mendidik anak dan melayani suami.

Akhirnya, kita harus membaca realitas sosial dengan adil, sejak dalam pikiran. Termasuk lika-liku rumah tangga sekian banyak pasangan istri dan suami. Realitas itu dinamis dan bisa saja tidak bisa ditebak sebelumnya. Dan karena itu kita juga sebaiknya menghindari penyeragaman/generalisasi bahwa misalnya istri sebaiknya di rumah saja, atau istri--tidak boleh tidak--harus bekerja. Kita berikan keleluasaan saja kepada masing-masing istri dan suami. Kita harus memedomani Islam dengan prinsip kesalingan; istri dan suami saling memuliakan, saling rendah hati, saling menjaga. Istri dan suami yang juga berbagi peran dengan terus menjaga komunikasi yang jujur dan saling terbuka. Wallaahu a'lam

Penulis, Mamang M Haerudin (Aa)