Ciangsana Farm Kambing Qurban

Saling Mengingatkan, Jangan Meremehkan

advertise here
NU BOGOR TIMUR - "Teori itu mudah, ngomong itu gampang. Yang sulit itu praktik, yang susah itu menjalankan." Sering kan kita mendapatkan protes dari orang-orang dengan nada meremehkan seperti demikian? Jangan-jangan kita termasuk di dalamnya. Nauzubillah. Saya betul-betul tidak habis pikir dengan orang-orang demikian, mending kalau yang protes ini orang awam, ternyata banyak juga orang terpelajar, berpendidikan. Kali ini saya coba akan mengulasnya melalui cacatan harian berikut ini. 


Tadi pagi, seperti biasa, saya diberi kesempatan untuk memberikan mauizhah hasanah di salah satu majelis taklim ibu-ibu. Betapapun saya, yang menyampaikan mauizhah hasanah masih muda, tetapi saya lihat para ibu begitu antusias menyimak dan memperhatikan. Saya sendiri selalu berusaha agar apa yang disampaikan tidak ada kesan menggurui. Justru pengajian ini menjadi ajang sharing dan saling mengingatkan. Bahwa sebagai manusia, kita menyadari banyak kekurangan dan kealpaan. 

Inilah salah satu prinsip dakwah, untuk saling mengajak dan mengingatkan dalam kebaikan. Untuk melengkapi jangkauan dakwah, selain dakwah melalui lisan, saya juga punya tekad dakwah melalui tulisan, berikut dakwah dengan tindakan. Dakwah melalui lisan dan tulisan tentu berisi pesan-pesan kebaikan agar kita tidak terjebak dalam zona nyaman. Karena zaman terus dinamis, maka kitapun harus bisa menyesuaikan dengan perubahan agar tidak ketinggalan zaman. 

Tetapi saya acap kali merasa heran. Ketika ada orang yang terpelajar, justru meremehkan ajakan kebaikan, hanya karena ajakan tersebut disampaikan melaui lisan dan atau tulisan. Padahal dia sendiri pandai memainkan lisan. Orang-orang semacam itu sesungguhnya sedang meremehkan dirinya sendiri. Disadari atau tidak. Dia seperti lupa atau sengaja menutup mata bahwa apapun yang kita lakukan dalam upaya kebaikan, sesederhana apapun bentuknya, harus saling menghargai, karena bagaimana pun kita harus terus saling mengingatkan. 

Ada semacam rasa dengki yang bersemayam dalam diri, ketika melihat orang lain berprestasi dan berintegritas. Ya memang demikian tantangannya bahwa sebuah dedikasi dan integritas hampir selalu ada tantangan atau lebih jelasnya akan menghadapi orang-orang yang dengki. Terhadap orang dengki, KH. A. Mustofa Bisri atau biasa disapa Gus Mus memberikan pengingat bahwa kita tidak usah risau manakala menghadapi para pendengki, mereka akan terbakar dengan kedengkian mereka sendiri. Dengan kata lain Gus Mus ingin menegaskan bahwa jangan mudah terpancing oleh respon negatif dari orang lain. 

Tidaklah aneh jika kemudian orang beraninya keroyokan. Orang-orang yang hanya sekadar ikut-ikutan. Tidak punya pendirian, termasuk asyik ketika membully dan merendahkan orang lain. Padahal yang sedang dibully dan direndahkan adalah pesan-pesan kebaikan. Inilah bukti bahwa kedewasaan itu pilihan, sementera usia yang semakin menua itu pasti. Tidak jarang di antara kita yang usianya tua tetapi sikapnya sangat konyol melebihi anak-anak. Pada saat yang sama, kita sering menemukan ada orang yang dari segi usia masih muda tetapi dewasa dalam berucap dan bersikap. 

Ketika kita saling mengingatkan dasarnya adalah peduli. Sementara ketika dasarnya benci akibatnya mencari-mencari kesalahan. Padahal kita hanya boleh benci pada perilakunya, bukan pada orangnya. Sebab orangnya masih bisa berpotensi mendapat hidayah. Sehingga dengan demikian, indah rasanya jika hidup kita punya fokus dan orientasi yang positif dan jelas. Prinsip hidup kita didasarkan pada sikap yang proporsional. Kepada siapapun, tanpa pandang jabatan dan keturunan siapa, tua atau muda, kita harus saling mengapresiasi jika ada kebaikan dan prestasi, saling mengingatkan apabila ada kekurangan.  Wallaahu a'lam

Mamang M Haerudin (Aa)
Pesantren Bersama Al-Insaaniyyah