Ciangsana Farm Kambing Qurban

Fenomena Dakwah Milenial Bagi Warganet

advertise here
NU BOGOR TIMUR - Setelah Ust Abdul Somad, kini Ust Hanan Attaki dan Ust Evie Effendie. Tahu siapa dua orang ini? Ya dia berdua adalah anak muda yang sedang ngehits di era millenial ini. Keduanya meroket tajam, dianggap seorang ustadz karena pandai menyampaikan ceramah. Keduanya viral dan digandrungi warganet di media sosial. Kemampuannya dalam menyampaikan ceramah (public speaking) memang mudah menghipnotis jemaah yang mendengarkan.

Saya sendiri kurang tahu keduanya berlatar belakang pesantren atau tidak, sebelumnya belajar di mana, kepada ulama siapa, sebab dalam beberapa ceramahnya keduanya tak pernah membahas persoalan itu. Ceramahnya sebetulnya adalah apa yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Ust Hanan Attaki punya suara yang khas. Lembut dan kalem. Bacaan qur'annya juga banyak yang menganggapnya merdu. Menggunakan bahasa Indonesia yang datar ketika berceramah. Tetapi kedatarannya itu justru menjadi daya tarik tersendiri.

Sementara Ust Evie Effendie kerap mencampuradukkan ceramahnya dengan menggunakan bahasa Sunda dan Indonesia. Logat Sundanya begitu kental dan justru itu yang menjadi senjata ceramahnya sehingga diminati. Berbeda dengan Ust Hanan Attaki, kualitas bacaan qur'an Ust Evie Effendie kurang bagus. Makhaarijul huruf dan tajwidnya saja masih belepotan. Tapi urusan menyampaikan ceramah memang begitu disukai.

Berbeda dengan para penceramah lainnya, Ust Hanan Attaki dan Ust Evie Effendi justru memakai--semacam kupluk--bukan peci hitam, peci haji atau udeng-udeng. Berceramah dengan memakai kaos dan jaket. Bercelana panjang dan berkaca mata. Berlawanan dengan penceramah mainstream. Ketika berceramah keduanya seolah tak pernah bisa berhenti berbicara. Materi ceramahnya membumi dan mudah dipahami.

Ust Hanan Attaki lebih mengedapankan renungan-renungan dalam ceramahnya. Berbekal suara yang lembut, materi ceramah Ust Hanan Attaki seputar ibadah wajib dan sunah. Soal fadilah basmallah, zikir dan lain semacamnya. Ringan-ringan saja. Tetapi yang ringan itu justru yang mampu membuat jemaah menangis, seperti menyesal atas segala dosa-dosa. Ust Hanan Attaki malah lebih banyak memilih duduk ketika berceramah. Tidak banyak gerak dan tingkah.

Sementara Ust Evie Effendie banyak menggunakan diksi-diksi unik ala anak muda zaman millenial, pemilahan kata-kata yang berakhiran (berima) sama. Berceramah seperti hafalan yang diulang-ulang. Berbeda dengan Ust Hanan Attaki, Ust Evie Effendie banyak mengandalkan banyolan dan humor ala orang Sunda. Ceramahnya kocak dan kelihatan unik di mata jemaah.

Sependek yang saya tahu materi ceramahnya masih standar. Keduanya masih kelihatan malu-malu dan tidak sevulgar Ust Abdul Somad. Saya hanya khawatir apabila keduanya semakin berjam terbang tinggi, lalu kemudian ditunggangi oleh kepentingan politisasi agama dan politik praktis berbalut agama. Sehingga dapat menimbulkan keresahan dan ujaran kebencian. Merapuhkan NKRI dan menyayat kebinekaan. Membenci saudara-saudara kita yang berlainan agama dan kepercayaan.

Semoga kekhwatiran saya tidak terjadi. Dan ini menjadi PR bagi kita, terutama pesantren dan NU untuk dapat mengorbitkan anak muda yang pandai berceramah sekaligus punya perspektif keislaman yang kuat, perspektif Islam Nusantara dan kebangsaan. Kita sedang butuh anak muda yang punya kemampuan berceramah dengan gaya yang unik dan membumi. Tidak lain dan tidak bukan untuk menyampaikan spirit keislaman (pesantren) yang berlandaskan tradisi bangsa. Wallaahu a'lam

Penulis, Mamang M Haerudin (Aa)