Ciangsana Farm Kambing Qurban

Yang Berbahaya bukan Cadarnya tapi Ideologinya

advertise here
foto : Ilustrasi
NU BOGOR TIMUR - kabar tentang pelarangan bercadar bagi para mahasiswi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta begitu cepat menyeruak. Kabar terakhir yang saya dapatkan, bahwa di UIN Suka tersebut ada 48 orang mahasiswi yang bercadar. Pihak kampus--sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Dr. KH. Yudian Wahyudi--akan melakukan bimbingan konseling bagi sejumlah mahasiswi tersebut selama beberapa hari, kalau sampai paska bimbingan konseling masih saja pada pendiriannya, pihak UIN Suka menegaskan agar mereka mengundurkan diri.


Saya mengapresiasi langkah tegas dari Rektor UIN Sunan Kalijaga ini. Sudah seharusnya Perguruan Tinggi bisa dinetralisir dari infiltrasi ideologi radikal. Oleh karena itu, melalui catatan ini saya ingin turut menegaskan bahwa yang berbahaya adalah ideologinya, bukan cadarnya. Tentang motif apa yang melatarbelakangi mengapa seorang perempuan Muslimah itu bercadar. Selain memang pemakaian cadar itu bisa menghambat proses administrasi kampus.

Kita harus memahami kultur bangsa Indonesia. Kita harus bangga menjadi warga negara Indonesia beserta seluruh warisan para leluhurnya. Termasuk budaya dalam berpakaian. Islam Indonesia adalah Islam yang berkesuaian dengan budaya bangsa Indonesia. Islam sebagaimana dahulu didakwahkan oleh para Walisongo dan ulama Nusantara. Sehingga dengan demikian corak dan warna keislaman kita harus bersinergi dan berkesuaian dengan budaya bangsa.

Menjadi perempuan Muslimah salehah itu sebuah kemualiaan. Tetapi juga bukan berarti predikat Muslimah diidentikkan dengan pemakaian cadar. Cadar itu salah satu jenis pakaian yang tidak disyariatkan secara gamblang oleh Islam. Jangan sampai pemahaman keislaman kita menjadi ekstrem dan radikal. Sebab kalau pemakaian cadar merupakan kewajiban syar'i maka konsekuensinya adalah semua perempuan yang tidak dan atau belum bercadar maka berdosa dan melanggar syariat Islam.

Perempuan punya impian untuk menjadi salehah itu baik, sebagaimana laki-laki ingin menjadi saleh. Tapi itu bukan berarti Muslimah yang salehah itu pasti bercadar atau laki-laki Muslim saleh itu yang berjenggot panjang, bercelana cingkrang, berjidat hitam dan berjubah. Sama sekali bukan seperti itu. Islam itu fleksibel dan kontekstual dengan segala waktu dan tempat; shalih likulli zamanin wa makanin. Soal cara berpakaian, Islam tidak pernah mematok desain, bentuk dan bahannya harus seperti perempuan Muslimah yang bercadar; pakaian serba lebar dan panjang, seragam berwarna hitam.

Inilah pentingnya kita memahami makna keislaman dan keindonesiaan. Jangan sampai menjadi Muslim dan Muslimah yang baik itu diidentikkan dengan budaya berpakaian Arab. Budaya berpakaian Arab dan Indonesia pada dasarnya baik. Tidak ada yang satu lebih unggul dan yang lain tidak unggul. Pakaian motif batik misalnya, ini salah satu warisan budaya Indonesia. Bukan berarti pakaian batik disebut tidak islami. Pakaian batik sebagai produk budaya itu boleh dipakai untuk keperluan ibadah shalat. Ini namanya budaya yang digunakan sebagai infrastruktur agama.

Bercadar itu menjadi berbahaya kalau motifnya didasari atas ideologi radikal. Bahwa bercadar itu, katanya, syariat mutlak Islam. Siapa yang tidak bercadar maka berdosa dan kafir. Apalagi jika keputusan bercadar hanya karena ikut-ikutan orang atau kelompok radikal tertentu. Bercadar dijadikan politik identitas. Nah keputusan bercadar yang seperti yang berbahaya. Dan biasanya bercadar yang berbahaya akan setali tiga uang dengan kepribadiannya yang ekstrem, emosional dan tertutup. Membenci umat agama lain dan menyebar hoaks di media sosial.

Kalau bercadar di luar dunia kampus dan perempuan Muslimah tersebut masih mau melakukan upacara bendera, masih setia pada Pancasila, UUD 1945 dan NKRI, lalu masih cinta pada budaya bangsa (dalam beragam bentuknya: upacara adat daerah/keagamaan, tarian, musik tradisonal dll), keputusan bercadarnya masih bisa ditolelir. Terakhir, catatan ini saya khususkan bagi para perempuan Muslimah bahwa untuk menjadi salehah itu tidak mesti dan tidak identik dengan bercadar. Komitmen bertobat, taat beribadah, berakhlakul karimah, dan terus melakukan amal kebaikan, ini semua sudah lebih dari cukup untuk ikhtiar memperbaiki diri. Wallaahu a'lam

Penulis, Mamang M Haerudin (Aa)