Ciangsana Farm Kambing Qurban

Halal bi Halal

advertise here




NU BOGOR TIMUR - Tradisi Halal bi Halal dan tradisi saling memaafkan di hari raya Idul Fitri ini unik dan ngangeni. Coba toh lebaran di mana gitu yang tidak ada tradisi ininya. Pasti hambar.

Setelah hubungan dengan Allah direparasi melalui aneka kegiatan spiritual di bulan Ramadhan, dan harta dibersihkan melalui zakat, maka mestinya kan memang otomatis hubungan dengan sesama hamba-Nya jugas jadi baik. Hawong Allah merintahkan hal ini. Yatoh?

Nyatanya kan tidak begitu. Lebih mudah minta maaf sama Allah daripada sama hamba-Nya. Isin, gengsi, marah belum tanek, dan lainnya. Maka, porla ulama leluhur kita membangun tradisi maaf-maafan ini.

Buat kita yang lingkaran pergaulannya terbatas (kita?), tradisi maaf-maafan secara personal cepat selesai. Tapi buat yang pergaulannya luas dan luas sekali, tentu tidak praktis kalau satu per satu hingga dibuatlah tradisi halal bi halal. Sekali kumpul, kabeh iso maafmaafan.

Idul Fitri jadi momen hubungan spiritual dengan Allah, hubungan dengaan harta sebagai pemilik, dan hubungan sosial dengan handai taulan dibagusin semua. Karenanya, meskipun Idul Fitri secara bahasa berarti kembali buka alias tidak puasa lagi, tp jika dihayati dengan cara seperti ini jadinya bisa bermakna kembali ke fitri dalam bahasa Indonesia, yang berarti fitroh dalam bahasa arab. Idul Fitri dimaknai sebagai harapan untuk kembali ke kondisi awal saat manusia diciptakan, yakni tanpa dosa.

Tradisi maaf-maafan ini penting sekali karena kesalahan antar manusia tidak bisa dihapus dengan sampai yang bersangkutan memaafkan. Tentu saja minta maaf mestinya jangan nunggu lebaran, kesuwen. Tapi ada juga momen yang dipastikan maaf-maafan tiap ldul Fitri kan yo apik.

Kita diajak mendidik diri sendiri untuk minta maaf dan memaafkan. Palagi orang Indonesia kalau salah reroto belum bisa spontan bilang "maaf ya" sespontan Wong Kulon kono blg "I'm sorry". Yekan?

Tradisi begini ini bikin saat merayakan Idul Fitri di negorone Hakan Sukur berasa hambar. Disebutnya malah Seker Bayrami alias Lebaran Permen. Tiap rumah sediakan permen banyak dan anak-anak ngumpulin permen dari rumah ke rumah. Pilih permen apa mentahannya??

Cuma bagusnya mereka punya tradisi halal bi halal on the spot. Setiap merasa ambil hak orang lain, mereka spontan bilang, "Hakkini helal et" atau "Hakkinizi helal edin". Hakmu halalin yaaa. Dosen telat sak menit (iya semenit, bukan sejaaam), sering kudengar mrk spontan ucapkan kalimat tadi. Lalu mahasiswa pun jawab, "Helal  olsun". 

Tentu saja kesadaran untuk tidak mengambil hak orang lain tiap saat itu bagus. Halal bi halal on the spot lebih bagus drpd setahun sekali. Selak lali. Tapi halal bi halal setahun sekali lebih bagus drpd tidak sama sekali. Etapi lagi, tidak halal bi halal lebih bagus daripada halal bi halal jadi modus haram bi haram.
Ncen meriah pol Muslim Indonesia ini ya. Idul Fitri gak cuma zakat fitrah, shalat, bubar. Ada mudiknya, ada mengunjungi dan mendoakan leluhur yang sudah wafat biar ikut senang, ada makan ketupat dan opor nasionalnya, ada maaf-maafan, open house, halal bi halal, reuni, piknik sama keluarga, silaturahim ke keluarga ya jauh. Sampai Cak Nun Emha Ainun Najib bilang: "Mosok Gusti Allah ndak terharu..." 😀

Selamat Idul Fitri 1439 H, Mohon Maaf Lahir Batin, Mohon halalkan hak-hakya
Semoga bisa kembali ke fitroh manusia: hanya mau menghamba pada Allah dan hanya mau kebaikan. Aamiin YRA.

Penulis, Dr. Nur Rofiah