Ciangsana Farm Kambing Qurban

Guru Madrasah Perkuat Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Islam

advertise here

NU BOGOR TIMUR - Jakarta - Menjelang peringatan Hari Guru Nasional (HGN) pada 25 November mendatang, Kementerian Agama melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah menggelar kegiatan seminar dalam rangka memperkuat wawasan kebangsaan dan pemahaman moderasi Islam untuk para guru madrasah, Jumat (9/11) malam di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Kegiatan tersebut berlangsung hingga Ahad (11/11) dengan menyelenggarakan kegiatan jalan sehat sekitar 12.000 guru madrasah bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Islamic Center Kota Bekasi. Puncak HGN dilaksakan di Surabaya 26 November 2018 mendatang.

Menurut Kasubbag TU Direktorat GTK Madrasah M. Sidik Sisdiyanto, pemahaman wawasan kebangsaan dan moderasi Islam merupakan bekal penting bagi para guru dengan harapan dapat mencetak generasi yang memiliki pemahaman agama yang moderat.

“Apapun mata pelajaran yang diampu oleh para guru di madrasah, memberikan pemahaman agama yang moderat, ramah, dan menghargai sesama merupakan upaya menyiapkan dan memperkuat generasi bangsa untuk mencintai tanah airnya,” jelas Sidik saat membuka seminar tersebut.

Menurutnya, pemahaman agama yang baik dan benar serta berakhlak merupakan bagian dari program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), khususnya untuk siswa di madrasah. Akhlak mulia tidak hanya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga ditanamkan sejak dalam pikiran sehingga virus radikalisme tidak tumbuh subur.

Dalam kesempatan seminar tersebut, Direktorat GTK Madrasah menghadirkan Khoirul Anwar dari Gerakan Pemuda Ansor. Dalam paparannya, Anwar menekankan bahwa virus radikalisme agama terbukti telah menghancurkan sejumlah negara di Timur Tengah, sebab menimbulkan perang saudara.

“Propaganda radikalisme dengan bungkus agama terus digelindingkan. Akhirnya perang saudara berkecamuk. Saya tidak bermaksud khawatir berlebihan. Mending khawatir dari sekarang ketimbang menyesal menjadi negara hancur pada akhirnya,” tegas Khoirul Anwar di hadapan para guru yang hadir.

Menurutnya, perang saudara ini lebih berbahaya daripada perang antar-negara. Meskipun dua perang tersebut jangan sampai terjadi. Perang saudara ini sudah tidak memandang siapa pun, sedangkan perang antar-negara masih punya aturan.

“Misalnya tidak diperbolehkan mencelakai dan merampas hak-hak sipil. Namun demikian, pengalaman selama ini orang-orang sipil tetap menjadi korban jika terjadi peperangan antar-negara,” terang Anwar. (*)